Tampilkan postingan dengan label solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label solo. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2012

Habib Anis bin Alwi al-Habsyi


Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 5 Mei 1928. Ayah beliau adalah Habib Alwi. Sedangkan ibu beliau adalah syarifah Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, ayah beliau menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.

Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assagaf, setahun kemudian lahirlah Habib Ali.

Tepat pada tahun itu juga, beliau menggantikan peran ayah beliau, Habib Alwi yang meninggal di Palembang. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi adik beliau menyebut Habib Anis waktu itu seperti “anak muda yang berpakaian tua”.

Habib Anis merintis kemaqamannya sendiri dengan kesabaran dan istiqamah, sehingga besar sampai sekarang. Selain kegiatan di Masjid seperti pembacaan Maulid simthud-Durar dan haul Habib Ali Al-Habsyi setiap bulan Maulud, juga ada khataman Bukhari pada bulan sya’ban, khataman Ar-Ramadhan pada bulan Ramadhan. Sedangkan sehari-hari beliau mengajar di zawiyah pada tengah hari.

Pada waktu muda, Habib Anis adalah pedagang batik, dan memiliki kios di pasar Klewer Solo. Kios tersebut ditunggui Habib Ali adik beliau. Namun ketika kegiatan di masjid Ar-Riyadh semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Habib Anis duduk tekun sebagai ulama.

Dari perkawinan dengan Syarifah Syifa Assagaf, Habib Anis dikaruniai enam putera yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib AbdiLlah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.

Dalam masyarakat Solo, Habib Anis dikenal bergaul lintas sektoral dan lintas agama. Dan beliau netral dalam dunia politik.

Dalam sehari-hari Habib Anis sangat santun dan berbicara dengan bahasa jawa halus kepada orang jawa, berbicara bahasa sunda tinggi dengan orang sunda, berbahasa indonesia baik dengan orang luar jawa dan sunda, serta berbahasa arab Hadrami kepada sesama Habib.

Penampilan beliau rapi, senyumnya manis menawan, karena beliau memangsumeh (murah senyum) dan memiliki tahi lalat di dagu kanannya. Beberapa kalangan menyebutnya The smilling Habib.

Habib Anis sangat menghormati tamu, bahkan tamu tersebut merupakan doping semangat hidup beliau. Beliau tidak membeda-bedakan apahkah tamu tersebut berpangakat atau tidak, semua dijamunya dengan layak. Semua diperlakukan dengan hormat.

Seorang tukang becak (Pak Zen) 83 tahun yang sering mangkal di Masjid Ar-Riyadh mengatakan, Habib Anis itu ulama yang loman

Habib Nuh Al Hadad ,Solo



Habib Nuh al Haddad atau dikenal sebagai Raden Nuh Al Haddad adalah keturunan langsung dari Qutb Imam Abdullah bin Alwi al Haddad qs .Menurut Habib Nuh, keluarga Al Haddad adalah Ahlul Bayt klan pertama yang datang ke tanah jawa, Solo. Tertanggal sebelum masa Wali Songo. Kakeknya Habib Ibrahim sama seperti habaaib lain yang melaukukan perjalanan jarak jauh dalam menyebarkan Islam dengan cinta.

Ada cerita yang diriwayatkan oleh Habib Nuh tentang kakek buyutnya yang pertama kali datang ke solo dan mendengar berita tentang putri lokal yang sedang sakit parah dan siapapun yang dapat mengobatinya akan diberikan hadiah. Habib Ibrahim membantu raja dan dengan kekuatan Allah swt, sang putri sembuh. Ia diberi kesempatan untuk berada di beberapa posisi penting dalam administrasi raja meskipun dia sudah menjadi penasihat untuk raja namun ia menolak tawaran, dia malah berhasil mengajarkan Islam untuk keluarga kerajaan dan akhirnya raja memeluk agama Islam. Kemudian, Habib Ibrahim menikah dengan sang putri. Inilah sebabnya mengapa Habib Nuh al Haddad sedang disebut Raden Nuh.
Salah satu kakeknya yang lain adalah guru dan penasehat bagi raja Yogyakarta. Keluarga Haddad tentu memberikan kontribusi bagi pengembangan studi keagamaan di banyak bagian dunia seperti Singapura, Malaysia, Indonesia dan banyak lagi. Amalan Ratib Al Haddad terkenal di berbagai bagian dunia saat ini. Habib Nuh pernah menerima telepon dari muridnya yang sedang bekerja di Rusia, mengatakan ada sebuah Majlis Ratib Al Haddad di Moskow.

Habib Nuh al Haddad selalu berada di rumahnya kecuali shalat Jumat. Dia tidak meninggalkan rumah selama 25 tahun. Orang-orang dari semua lapisan masyarakat sering mendatanginya untuk meminta saran dan bantuan. Dari pejabat pemerintah sampai orang biasa, ia tidak memandang berbeda ketika mereka datang untuk meminta bantuannya. Hingga hari ini Habib Nuh masih melakukan dakwah kepada masyarakat. Kasih sayang dan ketulusannya akan dirasakan oleh mereka yang mengenalnya dan menikmati waktu pada saat mereka bersama dengannya. Seorang pria sederhana yang menganut kemanusiaan dengan hati yang penuh cinta. Sulit untuk menemukan manusia yang mulia dengan kerendahan hati. semoga Allah memberkati dia dan keluarganya. Aamiin